Ngga perlu dikaji secara linguistic, kita dah tau apa itu “louder”. Trus apa hubungan kata “louder” dengan kaos atau t-shirt? Nah itu dia yang mesti dicari tau……
Sebenernya untuk menjawab pertanyaan tsb, kita hanya membutuhkan kamus yang tidak terlalu tebel & ada penjelasan tentang kata “louder” itu aja. Tapi begitu kita berbicara tentang “louder” dan kaos, mungkin aku sebagai pencetus louder bisa menambahkan sedikit pemikiran tentang bagaimana proses terciptanya louder sebagai label kaos.
Berawal pada kecanduanku untuk membeli dan memakai kaos yang dijual oleh temen2 pengusaha distro yang ada di
Surabaya
dan sekitarnya.Dalam sebulan, aku wajib belanja kaos distro paling ngga 3 kali tanpa peduli dengan pengeluaranku. Uang jajan bulanan yang masih disubsidi pak bos pun aku abisin buat beli kaos dan kaos. Hingga pada saat pak bos sudah muak ngasih aku uang jajan, (klo ngga salah semester 5) aku bener2 bangkrut. Aku cuma bisa berdiam dikamar karena ngga ada duit buat hang out ama temen2. Mukegilee……pusing juga klo ngga megang duit….Aku mesti improve….improve….improve. Dikamar cuma ada gitar bass elektrik merk ngga jelas, senar dah berkarat dan ngga pernah aku sentuh samasekali. Hey…knapa ngga dijual aja ya? Jual…ngga…jual…ngga….jual dah….Walaaah laku cuma 300rb doang. Klo dibeliin kaos, paling2 cuma dapet setengah lusin aja tuh. Ngga peduli, aku berangkat beli kaos tapi mampir dulu ke gramedia cari buku linguistiknya pak Bandi. Lah kok malah nemu buku panduan sablon kaos lengkap dengan alamat para penjual alat2 sablon. Aku beli aja bukunya, 10rb bungkusssss. Besoknya aku cari alamat tempat penjual alat2 sablon dan beli beberapa peralatan sablon yang sekiranya bisa dipake buat nyablon kaos. Duit hasil ngejual bass ludes buat modal awal. Nerima order satu kaos satu desain ternyata menguntungkan walau ngga pernah ada waktu buat tidur, makan, nonton tv, mandi, ngerjain tugas dsb.
Sedikit demi sedikit, aku mulai belajar bagaimana mekanisme para produsen kaos distro. Mulai buta akan kain kaos sampe paham ukuran kaos hanya dari beratnya saja. Aku buat label kaos dengan niatan untuk produksi kaos yang sedikit beda dengan kaos2 biasanya. Dan terciptalah “louder”.
Kaos adalah media yang jujur dimana kita bisa mengetahui jati diri si pemakai kaos tsb. Coba klo semua orang pake kemeja, mana jati diri mereka? Berkesan rapi aja
kan
? Padahal rapi belum tentu nyaman….Bicara soal nyaman berpakaian, kaos paling bisa dijagoin lah. Dari kejauhan kita bisa tau mood seseorang yang sedang mengenakan kaos.
Yup, aku mencoba mengajak kalian membicarakan kaos yang berbicara. Di sini kita akan tau kenapa “louder” aku pilih sebagai label kaos2 produksiku.
Perlu diketahui bahwa untuk berkomunikasi, kita tidak harus mengeluarkan atau memproduksi suara. Mungkin hanya dengan mengacungkan jari tengah saja, bisa mengakibatkan persetruan bahkan peperangan. Gerakan tubuh dan gesture dapat bebicara lebih lantang daripada bersuara.Begitu pula smua desain yang terdapat pada kaos2 louder. Dengan berbagai tulisan atau gambar yang tercetak dikaos2 louder, sedikit banyak mengapresiasikan jati diri pemakai kaos louder tentunya (tuh
dibilang juga apa
…..).
Itu dia kaitan dan konsep kaos yang ada pada label “louder” selama ini. Kalo bicara soal konsep, “There is Nothing Conceptually Better Than LOUDER”.